Pada Januari 2026 Presiden Donald Trump membentuk
sebuah organisasi Board Of Peace atau BOP. Tujuan dari organisasi ini tidak
lain untuk mengawasi transisi, rekonstruksi dan stabilisasi keamanan Gaza,
Palestina pasca konflik.
Sejumlah negara sekutu utama Amerika seperti; Inggris,
Jerman, Prancis dan Swedia serta sejumlah negara Eropa lainnya menolak untuk
gabung.
Lalu kenapa Presiden Indonesia, Prabowo serta sejumlah
negara Muslim lainya justru bergabung?
Apakah mereka bodoh karena mau saja di bodohi oleh
Presiden Amerika, Donald Trump?
Sebelum menjawabnya, mari kita analisis penyebab
sejumlah negara Eropa menolak gabung pada
organisasi bentukan Trump ini.
Alasan Penolakan dari Negara-Negara NATO
atau Eropa
- Legitimasi
PBB: Negara-negara Uni Eropa cenderung menolak
karena menganggap dewan ini dapat mendegradasi otoritas PBB dalam
mengelola bantuan dan resolusi konflik.
- Format
yang Belum Sesuai: Jerman dan beberapa negara
lain menyatakan keraguan karena merasa format dewan tersebut belum cocok
dengan prinsip-prinsip internasional yang mereka anut.
- Solidaritas
Aliansi: Meski AS adalah pemimpin NATO,
keputusan untuk bergabung dalam misi di luar pakta pertahanan tetap
merupakan kedaulatan masing-masing negara anggota, yang dalam hal ini
mayoritas memilih untuk menjaga jarak dari inisiatif sepihak AS.
Lalu Kenapa Indonesia dan Negara Arab/Muslim
Bergabung?
Indonesia bersama tujuh negara lainnya (Turki, Arab
Saudi, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, dan Uni Emirat Arab) secara resmi
bergabung pada 22 Januari 2026 di Davos, Swiss.
Alasan mereka meliputi:
- Pertama
Upaya Transisional:
Mereka melihat dewan ini
sebagai badan administrasi transisi yang konkret untuk mengakhiri konflik di
Gaza sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.
- Komitmen
Rekonstruksi:
Bergabungnya
negara-negara ini dianggap sebagai langkah nyata untuk mengawal pembangunan
kembali Gaza dan memastikan bantuan kemanusiaan tersalurkan secara efektif.
- Peran
Strategis:
Bagi Indonesia, ini
merupakan wujud diplomasi bebas aktif untuk terlibat langsung dalam mengamankan
hak-hak rakyat Palestina melalui jalur yang sedang terbuka.
Meskipun secara institusi NATO tidak terlibat
langsung, beberapa pemimpin pro-Trump di Eropa, seperti Viktor Orbán dari
Hongaria, memilih untuk bergabung secara mandiri sebagai anggota pendiri.
Setelah melalui berbagai pertimbangan dan analisis, bergabungnya
Prabowo dan sejumlah Negara Arab/Muslim dalam BOP cukup bijak. Pasalnya, mereka
melihat dari sisi perjuangan membantu warga Gaza yang sedang menderita akibat
perang.
Lalu bagaimana menurutmu?
